Jakarta –
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon dulunya juga pemburu beasiswa. Ia juga menyinggung peristiwa beberapa waktu lalu ketika seorang awardee LPDP mengunggah video bernarasi ‘cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan’.
Menbud menceritakan, dirinya tiga bersaudara dan sang ayah telah wafat. Situasi ketiadaan ayahanda menurutnya mengubah semua jalan kehidupan dalam keluarganya.
Namun, ayah dan ibunya memiliki perhatian atas pendidikan, sehingga ia berprestasi. Saat masih SMA, Menbud pernah dapat beasiswa American Field Service (AFS) saat masih kelas 3 SMA.
“Jadi saya ini saya pemburu beasiswa. Kami sekeluarga itu pemburu beasiswa yang kalau tidak ada beasiswa itu mungkin nggak sanggup,” kata Menbud Fadli Zon dalam unggahannya di akun media sosial, dikutip Kamis (5/3/2026).
“Makanya menurut saya prinsip beasiswa itu harusnya adalah bagi orang yang tidak mampu, tapi punya peluang untuk maju,” ucapnya.
Singgung Awardee LPDP yang Viral
la menegaskan beasiswa LPDP itu berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat. Menurutnya, penerima beasiswa LPDP berinisial DS yang viral memamerkan anaknya berpaspor Inggris beberapa waktu lalu, tidak memiliki rasa cinta Tanah Air dan semestinya tahu diri karena dibiayai oleh uang rakyat.
“Bagi saya ini nggak ada cinta Tanah Air, rasa nasionalisme gitu. Saya tahu banyak orang Indonesia yang berada di luar negeri puluhan tahun, tapi paspornya masih paspor hijau,” ujarnya.
“Tidak ada masalah juga kalau mereka mau memilih, tapi kalau dibiayai oleh negara, oleh pajak rakyat, oleh uang rakyat harusnya tahu diri gitu ya,” tegas lulusan Universitas Indonesia itu.
Ia menyebut seharusnya ada training soal nasoinalisme seperti keikutsertaan pendidikan bela negara bagi para penerima beasiswa LPDP. Baginya tidak adil jika penerima beasiswa dibiayai oleh uang rakyat, tetapi tidak memiliki rasa cinta terhadap bangsa.
“Harusnya penerima LPDP itu diberikan satu kewajiban, satu orientasi, satu training tentang kebangsaan-nasionalisme yang dilatih sedemikian rupa dengan kurikulum yang baik untuk menjadi bagian yang penting nanti berkontribusi bagi bangsa dan negara,” jelasnya sembari mencontohkan wajib militer di Korea Selatan atau Singapura.
Saran Menbud buat LPDP
Menbud menggarisbawahi sudah semestinya awardee LPDP kembali ke Indonesia untuk berkontribusi. Namun, menurutnya juga perlu dipikirkan ekosistem untuk mewadahi para awardee.
“Dan bahkan sudah seharusnya mereka kembali ke Indonesia berkontribusi bagi bangsa dan negara, tapi memang perlu dipikirkan juga ekosistemnya. Nah ini yang menurut saya LPDP itu harusnya bagi orang yang tidak mampu, bukan bagi mereka yang mampu,” ungkapnya.
Penggemar novel-novel Rusia ini menilai ada banyak orang yang secara finansial sebenarnya mampu, tetapi mendaftar beasiswa LPDP. Ia menekankan LPDP sebaiknya diprioritaskan untuk calon penerima yang tidak mampu, tetapi berprestasi.
“Ini banyak sekali saya kira yang memanfaatkan itu orang-orang yang sebenarnya mampu mendapatkan atau mempunyai akses dana pribadinya atau dana keluarganya untuk menyekolahkan anaknya. Sebaiknya LPDP itu diprioritaskan bagi orang-orang yang tidak mampu, tapi berprestasi,” ucapnya.
(nah/nah)